jump to navigation

ASHABIYYAH MAHASISWA June 22, 2008

Posted by inqilabi in Umum.
trackback

Sebuah persatuan, sebuah persaudaraan adalah sesuatu yang amat ingin kita raih bersama-sama demi kedamaian di antara manusia khususnya mahasiswa dalam konteks kampus. Banyak upaya yang dilakukan oleh berbagai kalangan demi mewujudkannya misalnya dengan diadakan lomba futsal dengan pemainnya antar hima jurusan satu dengan hima jurusan lainnya. Selain lomba futsal, lomba basket, dan acara-acara hiburan lainnya pun diadakan juga yang kesemuanya bertujuan agar tercipta suatu persatuan dan persaudaraan. Namun, apakah memang tujuan yang luhur itu benar-benar terwujud? Lalu, apa esensi sebuah persatuan jika hanya membuahkan suatu kebekuan kreativitasan mahasiswa bagi masyarakat? Apa artinya sebuah persaudaraan yang hanya membuahkan karakter ‘having fun’ semata? Di sinilah kita perlu mengkaji ulang dinamika mahasiswa yang ada.


Ashabiyah
Sebuah sikap yang mampu memecah belah umat Islam adalah sikap Ashabiyyah. Sikap ashabiyyah ini amat dicela oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang artinya :
“Bukan termasuk golongan kami yang menyeru kepada ashabiyyah (kelompok suku/ bangsa), berjuang untuk ashabiyyah dan mati di atas ashabiyyah” (HR.Muslim).
Sikap ashabiyyah adalah sikap menyerukan kelompok dengan berbagai kepentingannya melebihi sikap menyerukan dinul Islam. Artinya, barang siapa yang tidak menjadikan Islam sebagai ikatan dalam berkelompok dan berjuang maka kelompok ini telah masuk dalam golongan ashabiyyah yang dicela oleh Rasulullah. Standar Ashabiyyah ini bersandar pada firman Allah yang artinya :

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kalian dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” Ali Imran [3] ayat 103
Dari ayat di atas pula, umat Islam harusnya makin menyadari bahwa sanya Allah hanya mempersatukan hati di antara umat Islam jika umat Islam menjadikan islam sebagai ikatan persatuannya bukan ikatan hima, ikatan MKM, ikatan BEM, ikatan ITS, ikatan Kedaerahan dan ikatan-ikatan lainnya.
Umat Islam semestinya harus menyadari bahwa ikatan apapun yang tidak berlandaskan pada aqidah Islamiah akan memunculkan pertikaian di kemudian hari.
Efek Ashabiyah Mahasiswa
Dalam konteks kampus, ikatan ashabiyah akan menjadikan mahasiswa dalam kelompok-kelompok organisasi baik itu Hima, Lsm atau lainnya tersekat-sekat satu sama lainnya, tidak mempedulikan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, merasa kelompoknya lebih unggul, lebih baik kebanding dengan kelompok lainnya. Andaikan ada kerjasama, itu berlandaskan pada asas kepentingan materi. Hal ini menjadikan mahasiswa tidak bersatu baik dalam hati, perkataan maupun perbuatan. Maka, kita dapat saksikan betapa perjuangan mahasiswa juga tersekat-sekat oleh tembok-tembok kelompok. Akibatnya, aksi mahasiswa meski mengusung ide yang brilliant, menghantam ide yang kufur tidak menggema dan menampar para pejabat-pejabat kampus maupun pemerintah sebab perjuangan telah tersekat-sekat kelompok, tiada persatuan. Dalam pikiran banyak mahasiswa ‘ngapain juga ikut-ikutan toh bukan kelompok gue’,’ndak usah ikut-ikut lah…wong proker organisasiku juga belum jalan’ ,’ngapain juga ikut-ikutan..toh ndak ada untungnya baik buat kelompokku lebih-lebih buat kuliahku’ dan nada-nada yang senada lainnya.
Hal di atas adalah efek ashabiyah di dunia kampus. Di luar kampus, dimana para fungsionaris-fungsionaris hima, lsm dan lainnya yang dulunya telah terbiasa berikatan ashabiyah lulus dan masuk ke dalam suatu partai politik, maka dapat kita saksikan betapa orang-orang yang semasa menjadi mahasiswa berjuang demi rakyat beralih menjadi berjuang demi royalty alias duit. Hal ini karena karakter ikatan ashabiyah adalah ikatan kepentingan materi yang ujung-ujungnya harta dan tahta menjadi prioritas ikatan. Lalu, ketika partai-partai politik mengusung ashabiyah maka tiadalah arti mereka karena hanya memperjuangkan kesejahteraan kelompoknya sambil menyikut kelompok lainnya, lupakan kesejahteraan masyarakat yang semestinya menjadi prioritas perjuangan. Inilah bentuk nyata atas perlanggaran firman Allah Ali Imran [3] ayat 103 di atas.
Ikatan ukhuwah Islamiyah: ikatan rahmatan lil alamin
Mungkin banyak kalangan yang menyangsikan ikatan ini sebab mahasiswa tidaklah semuanya muslim. Padahal, jika kita merujuk pada firman Allah di bawah ini, ketakutan itu tidaklah perlu muncul
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”(Al Anbiya 107)
Ketika sebuah Organisasi Hima, Lsm, Bem dan seterusnya berlandaskan pada ikatan aqidah Islamiah, maka rahmatnya tidak hanya dirasakan bagi orang Islam saja tapi juga bisa dirasakan bagi orang di luar Islam. Hal ini dikarenakan aturan-aturan Islam yang berkenaan dengan masyarakat memang memberikan kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat, tidak tertentu pada lapisan muslim semata. Misalnya, Islam menetapkan bahwa pendidikan adalah hak bagi masyarakat baik kaya maupun miskin, baik muslim maupun bukan muslim. Agar pendidikan bisa diakses oleh semua lapisan maka kebutuhan pendidikan ditanggung oleh pemerintah sepenuhnya. Jika aqidah Islam dijadikan ikatan berorganisasi dengan menelurkan aturan Islam yang salah satunya di atas untuk diperjuangkan, maka siapakah orang non muslim yang menolak aturan di atas? Siapa???
Khatimah
Ikatan Ashabiyah haruslah dihapus agar persatuan, persaudaraan yang hakiki benar-benar tercipta. Upaya menghapus ikatan ashabiyah ini tidak ada kata lain membuang segala ikatan kelompok yang memperjuangkan rakyat dengan ikatan Aqidah Islamiah. Wujud nyatanya adalah menjadikan Islam sebagai satu-satunya haluan garis-garis besar perjuangan kelompok dan berjamaah dengan kelompok lainnya. Dengan cara seperti ini sajalah ikatan ashabiyah akan tergantikan dengan ikatan ukhuwah Islamiah yang rahmatan lil alamin. Wallahualam bisshawab

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta Ulil Amri diantara kalian. Kemudian, jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa [4]: 59)

Comments»

1. Mr WordPress - June 22, 2008

Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: