jump to navigation

ASHABIYYAH MAHASISWA 2 June 30, 2008

Posted by inqilabi in Umum.
trackback

Suatu hari, penulis membaca sebuah tulisan yang berisi tentang seseorang yang begitu semangatnya dalam berorganisasi. Ia selalu menjalankan amanah yang dibebankannya dengan penuh tanggung jawab. Ia merasa dengan bertambahnya amanah, bertambah pula arti dirinya di dalam kehidupannya khususnya di dalam organisasi yang ia masuki. Sangking semangatnya, berjuang demi kejayaan organisasi-kampusnya adalah tujuan hidupnya.
Fakta demikian pastilah didapati oleh mahasiswa terutama mahasiswa yang aktif berorganisasi. Hidup, mati, bahkan mungkin sholat ibadahnya untuk kejayaan organisasi. Fakta ini menunjukkan bahwa ketika seorang manusia telah terikat oleh sesuatu – dalam hal ini ikatan berorganisasi – maka dia akan berkorban demi sesuatu itu. Semakin kuat ikatannya, semakin besarlah pengorbannya. Yang jadi pertanyaan, darimanakah muncul sebuah ikatan? Apa aja ikatan yang ada di dunia ini dan ikatan apa yang mesti kita ambil?


Darimanakah muncul sebuah ikatan?


Manusia secara fitrah memiliki sebuah naluri baqo’ sebagaimana hewan pun memilikinya juga. Naluri baqo’ adalah naluri mempertahankan diri dari ancaman. Ancaman ini bisa berupa fisik maupun non fisik/psikologis. Jika ada sesuatu yang mengancam dirinya – baik ancaman fisik maupun nonfisik – maka naluri baqo’ akan bangkit merangsang manusia untuk melakukan sesuatu agar bisa terhindar dari ancaman itu. Misalnya, ada sebuah ancaman fisik berupa preman mahasiswa. Secara fitri, manusia akan melakukan sesuatu agar terhindar dari gangguan fisik preman mahasiswa itu, misalnya merayu, menjilat, adu jotos, lari, dan bentuk-bentuk lain sesuai dengan apa yang dikehendaki manusia itu sendiri. Begitu pula sebuah ancaman nonfisik misalnya berupa bentak-bentakan waktu Ospek. Secara fitri, manusia akan melakukan sesuatu agar terhindar dari ancaman nonfisik, misalnya nurut senior, tidak ikut ospek dengan berpura-pura sakit, atau bentuk-bentuk lainnya.
Lalu apa hubungannya naluri baqo’ dengan ikatan? Hubungannya adalah bahwa manusia merasa, dengan berkelompok akan mampu mengatasi berbagai ancaman itu, baik fisik maupun non fisik. Nah, untuk berkelompok ini perlulah ada sebuah ikatan yang sama. Ikatan ini bermacam-macam, tergantung manusianya, ikatan apa yang mau dipilihnya.
Sekedar Naluri = kebodohan
Telah disampaikan bahwa naluri baqo’ akan muncul ketika ada ancaman baik fisik maupun non fisik baik besar maupun kecil. Ini sudah otomatis dimiliki baik oleh manusia maupun hewan. Namun, bedanya manusia dengan hewan, manusia mampu mengarahkan bangkitnya naluri ini agar tidak melampaui batas. Andaikan manusia tidak mengendalikan naluri baqo’nya, maka ia akan cenderung melakukan tindakan bodoh. Misalnya, rasa takut yang merupakan salah-satu bentuk rasa hasil bentukan dari naluri baqo’. Ketika seseorang berada di kuburan di tengah malam, tiba-tiba ada selebatan putih melewati di hadapannya, secara umum rasa takut akan muncul karena mempersepsikan selebatan putih itu sebagai hantu. Dan bila rasa ini dituruti maka manusia akan lari. Tapi, coba saja manusia mau sedikit menggunakan akalnya dengan menghampiri selebatan putih itu maka manusia akan tahu bahwa persepsi takutnya itu salah sebab selebatan itu hanyalah kain.
Begitu pula berkelompok baik dalam suatu komunitas atau dalam suatu organisasi jika landasannya hanya naluri baqo’ semata maka yang muncul hanyalah ashabiyyah mahasiswa. Mahasiswa akan merasa bahwa kelompoknya yang paling benar, paling hebat, paling keren. Mahasiswa akan memperjuangkan kelompoknya dengan membabi buta tanpa melihat apakah kelompoknya salah atau benar.
Ikatan naluri adalah ikatan emosional dan pemecah belah umat
Ikatan naluri adalah ikatan emosional sebab muncul dari perasaan semata. Karena sifatnya emosional maka tergantung kondisi yang melingkupinya. Contohnya, ikatan sejurusan hanya menjadikan mahasiswa merasa hanya mahasiswa sejurusannya semata yang bisa dijadikan teman sembari merendahkan atau tak peduli dengan mahasiswa jurusan lain. Hidup matinya ia curahkan hanya untuk jurusannya. Hal ini akan menjadikan mahasiswa-mahasiswa terkotak-kotak berdasarkan jurusan-jurusan. Tiada persatuan di dalamnya. Begitu pula ikatan seangkatan, ikatan sedaerah dan ikatan-ikatan emosional lainnya hanya akan menjadikan mahasiswa terkotak-kotak.
Ikatan ideologi ikatan yang paling kuat
Ikatan yang semestinya dibangun adalah ikatan pemikiran sebab manusia adalah makhluk hidup yang termulia dengan potensi akalnya yang tak dimiliki makhluk lain. Yang dimaksud ikatan pemikiran di sini adalah ikatan ideologi. Ideologi sendiri di dunia hanya ada tiga macam, yakni kapitalisme-sekulerisme, sosialisme dan ISLAM. Ideologi kapitalisme berasas pada sekulerisme, pemisahan agama dengan kehidupan. Ikatan ideologi ini hanya memunculkan orang-orang yang tak lagi memakai agama sebagai sandaran. Sedangkan ideologi sosialisme komunisme berasas pada atheis, ketidakpercayaan pada tuhan. Ikatan ideologi ini hanya memunculkan orang-orang yang meremehkan bahkan mematikan kehidupan beragama di tengah-tengah masyarakat. Kedua ikatan di atas terlihat jelas kerusakannya tanpa perlu penjelasan lebih detail sebab tidak sesuai dengan fitrah manusia yang selalu membutuhkan Tuhan dalam hidupnya, yang artinya membutuhkan agama dalam setiap sisi kehidupannya. Hanya ideologi islamlah yang tegak berdiri di atas asas aqidah Islamiah yang benar. Ikatan Ideologi ini adalah ukhuwah Islamiah. Ukhuwah Islamiah tidak mengenal batas wilayah baik jurusan, angkatan, daerah, umur dan sebagainya. Yang dikenal oleh ukhuwah Islamiah hanyalah batasan iman dan taqwanya. Selama manusia memiliki keimanan dan ketaqwaan yang tegak di atas asas Islam maka ia adalah saudara. Bahkan tinggi rendahnya ketaqwaan menjadi standar tinggi rendahnya derajat manusia.

…Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Al Hujurat 13)
Meskipun ukhuwah Islamiah menjadikan aqidah Islamiah sebagai asas ikatan, orang-orang di luar Islam tetap harus diperlakukan baik dan adil asal mereka tidak memerangi/memusuhi yang muslim karena agama.

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Al Mumtahanah 9)
Ikatan inilah yang semestinya diambil oleh mahasiswa sebagai ikatan berkelompok. Sebab, Ikatan ini akan mengarahkan mahasiswa tidak membabi buta dalam memperjuangkan kelompoknya bahkan menjaganya agar senantiasa berada di asas ketaqwaan Islam. Adapun ketaqwaan yang dilakukan akan memberikan ketentraman bagi masyarakat sekitar baik muslim maupun non muslim. Misalnya, firman Allah yang artinya

…Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al Maidah 5)
Firman ini saja telah menggambarkan bagaimana seharusnya dinamika mahasiswa yang sangat heterogen ini. Gambaran ini seandainya benar-benar diwujudkan dalam dinamika mahasiswa maka tidak ada lagi perjuangan mahasiswa terkotak-kotak, dan tidak ada lagi perjuangan sampah yang hanya memunculkan ashabiyyah mahasiswa. Dinamika ini akan mampu memberikan kebaikan demi kebaikan bagi semua lapisan mahasiswa dari yang kaya hingga yang miskin, dari yang muslim hingga yang non muslim. Jika seperti ini, akankah Ikatan Islam tidak layak menjadi ikatan berjamaah di tengah-tengah heterogennya mahasiswa dalam berbagai hal?

Khatimah
Ikatan naluri bersifat emosional dan temporal. Ikatan ini tidaklah pantas dipakai dalam ikatan berjamaah karena hanya menjadikan mahasiswa yang terikat dengan ikatan ini memperjuangkan kelompoknya dengan membabi buta sembari merendahkan kelompok yang lain. Ikatan ideologi bersifat tetap dan kuat. Ikatan ini ada 3 macam, yakni sekulerisme, sosialisme, dan Islam. Hanya Islamlah yang sesuai fitrah manusia dan benar-benar mampu memberikan kemaslahatan baik bagi yang non muslim lebih-lebih bagi yang muslim.
Dari penjelasan ini, kami serukan lewat tulisan ini bahwa hendaknya mahasiswa segera sadar untuk mengganti segala bentuk ikatan berjamaah/berkelompok mereka dengan ikatan ideologi Islam. Hendaknya mahasiswa tidak terkotak-kotak oleh tembok-tembok bangunan basecamp kelompok mereka. Hendaknya meraka bersatu dalam satu ruh Islam. Hendaknya mahasiswa muslim mengerti hal ini dan memperjuangkannya. Dan hendaknya mahasiswa non muslim tidak perlu merisaukan ikatan ideologi Islam karena toh kebaikannya juga untuk mereka.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (Al anbiya57)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: