jump to navigation

PERGAULAN ISLAMI June 30, 2008

Posted by inqilabi in Umum.
trackback


Kita sering menggembor-gemborkan jangan bergaul bebas, no freesex no gaul bebas, gaul bebas budaya setan dan gemboran-gemboran yang senada dengan itu. Tapi gemboran tinggalah gemboran. Mengapa? Banyak manusia-manusia yang sok tahu menggembor-gemborkannya tapi tidak tahu apa sih pergaulan bebas itu sebenarnya. Mereka bilang ‘bergaul asal jangan keterlaluan’ tapi standar keterlaluaanya masing ngambang. Mereka bilang ‘ bergaul asal bisa jaga diri’ tapi bagaimana cara bisa jaga diri pun juga masih seperti nelayan yang tak tahu arah di tengah lautan bebas.
Fakta di atas membuat kita (yang memilki mata, telinga dan hati yang penuh iman) sedih. Bagaimana tidak, Islam yang penuh dengan kesempurnaan tidak menjadikan mereka tahu arah bagaimana cara bergaul tapi hanya dijadikan simbol atau bahkan legitimasi pergaulan bebas mereka dengan dalih-dalih ‘silaturahim’, ‘ta’aruf’, ‘merekatkan tali ukhuwah’. Yang lebih menyakitkan lagi, perkataan-perkataan terang-terangan bahwa gaul bebas itu oke, gaul bebas itu indah dan lain sebagainya –terlepas ia bercanda atau tidak -. Bagaimana tidak menyakitkan hati orang beriman, seorang muslim begitu enaknya mengatakan bahwa kekufuran itu itu indah, kekufuran itu oke, sedangkan seorang muslim diwajibkan untuk meninggalkan kekufuran. Mereka seolah-olah mengatakan ‘cukuplah hati yang beriman tapi perbuatan tidak butuh iman’.


Sistem pergaulan dalam Islam
Sebenarnya islam telah datang menjelaskan segala aturan mengenai segala sisi kehidupan yang kita jalani termasuk sisi kehidupan bergaul kita dengan lawan jenis. Pergaulan dengan lawan jenis dibagi menjadi dua bingkai yakni dalam bingkai sebelum nikah dan bingkai setelah nikah. Masing-masing bingkai ini memiliki karakteristik masing-masing. Dalam tulisan ini hanya akan menjelaskan satu bingkai saja, yakni bingkai sebelum nikah.
Dalam buku system pergaulan dalam Islam karya syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, tata pergaulan dalam bingkai ini dapat diringkas dalam beberapa poin.

  • Menundukkan pandangan baik bagi laki-laki maupun perempuan

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya… (AnNur 31)

  • Menutup auratnya masing-masing dari yang tidak berhak, Bagi Laki-laki

Jika ada di antara kalian yang menihkahkan pembantu, baik seorang budak ataupun pegawainya , hendaknya ia tidak melihatnya (melihat laki-laki yang akan dinikahi-blum muhrim bagi calon istrinya) kecuali selain bagian tubuh antara pusat dan di atas lututnya, karena bagian tersebut termasuk aurat (Amr ibn Syuaib)

  • Bagi Perempuan

..janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya..(AnNur31)
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka.”…(Ahzab59)

Maksud yang biasa nampak dari padanya adalah perhiasan gelang karena turunnya ayat ini di saat para muslimah biasa menampakkan gelang mereka. Maksud dari jilbab adalah pakaian kurung atau daster yang menjulur hingga menutupi kaki mereka

  • Tidak berkhalwat

‘tidak dibolehkan seorang pria dan wanita berkhalwat, kecuali jika wanita itu disertai mahram-nya’

Dikatakan khalwat jika pertama, satu laki-laki dan satu perempuan baligh, kedua saling berinteraksi hingga tidak memungkinkan orang lain masuk di tengah-tengah pembicaraan mereka kecuali atas izin mereka.
Berinteraksi pada hal-hal yang memang diperbolehkan oleh syara’. Maksudnya, segala aktivitas yang diperintahkan atau yang dimubahkan syara’ yang mana untuk memenuhinya mau tidak mau tidak bias lepas dari interaksi lawan jenis. Misal, menuntut ilmu adalah wajib, sedangkan untuk menuntut ilmu itu tidak bisa lepas dari lawan jenis maka interaksi demikian diperbolehkan hingga tidak urgen lagi terjadinya interaksi. Misal, jual beli dimubahkan oleh Allah, sedangkan untuk aktivitas jual beli itu tidak bisa lepas dari lawan jenis maka interaksi demikian diperbolehkan hingga tidak urgen lagi terjadinya interaksi.
Realitas sekarang
Demikianlah poin-poin penting yang mesti tertancap kuat dalam pikiran dan benak setiap muslim dan muslimah. Namun, realitas tidak menunjukkan demikian. Banyak kaum muda-mudi yang beragama Islam yang tidak lagi mengindahkan prinsip demikian. Akibatnya, pergaulan bebas pun terjadi. Pergaulan bebas hanya menjadikan suatu interaksi dipandang dari segi seksual. Pandangan ini menjadikan segala hal yang tidak berbau seks itu tidak asyik. Akibatnya hal-hal yang berbau seksual sering ditampilkan. Misal, Majalah-majalah porno, situs-situs porno, cerita-cerita porno dan sebagainya. Perfilman pun ikut terkena dampak seperti demikian. Banyak tayangan-tayangan yang jika tidak ada sesuatu yang bersifat seksual maka tidak laku. Maka bertebaranlah sinetron-sinetron, perfilman yang melulu bertema cinta dan cinta baik yang islami maupun yang tidak islami. Iklan pun demikian, sering menampilkan wanita sebagai pembawa produknya. Akibat hal ini menjadikan kenikmatan seks menjadi orientasi. Terjadilah apa yang disebut Freesex, bestiality (berserks dengan hewan), incest (zina dengan saudara atau orang tua kandung), homo dan lesbian, serta jenis-jenis seks yang tidak kalah menjijikkan lainnya. Dampak dari perilaku seks menyimpang pun tidak tanggung-tanggung berupa penyakit aids, aborsi dan sebagainya. Jadilah masyarakat di era sekarang menjadi masyarakat sakit!

Berkaca dari film ayat-ayat cinta
Seperti apa yang dikatakan sebelumnya bahwa sinetron-sinetron, perfilman melulu bertema cinta dan cinta baik yang islami maupun yang tidak islami, film ayat-ayat cinta pun juga salah satu drama dari sekian banyak drama perfilman cinta yang bernuansa islami. Meski memiliki nuansa islami, kita tidak boleh menutup mata dari nilai-nilai yang melenceng dari syariat yang ditayangkan agar jangan kita contoh. Pertama, Jalan berduaan menuju ke kampus dan belajar berdua di suatu taman antara tokoh Fahri dan Maria merupakan aktivitas khalwat. Meski memang interaksinya adalah untuk menuntut ilmu namun harus tetap berada dalam koridor syariat seperti tidak berkhalwat. Kedua, Aktivitas melihatnya Fahri pada Maria yang tidak berkerudung tidaklah diperbolehkan karena bukan muhrimnya. Ketiga, memasukkan Maria ke dalam kos laki-laki tidak boleh – meski bertujuan untuk membantu mengerjakan tesis Fahri – karena kos-kosan adalah wilayah privat. Keempat, ketika Aisyah mengadu kepada pengacara, pengacara mempertanyakan proses menikah Aisyah dengan Fahri yang tidak berlangsung lama menjadikan Aisyah tidak tahu betul siapakah Fahri sebenarnya. Hal ini seolah-olah mengatakan bahwa proses taaruf/khitbah dari aisyah dan fahri itu tidak bagus untuk proses menikah karena dianggap tidak bisa mengenal luar dalam si calon. Padahal, proses seperti inilah yang baik, sebab si calon direkomendasikan oleh tokoh agama yang tidak mungkin menikahkan sepasang sejoli kecuali memang agama dan akhlaqnya terpilih.
Inilah nilai-nilai yang harus kita waspadai dari film ini agar tidak kita ambil mentah-mentah hanya lantaran terbuai dengan cerita cinta yang mengharukan. Kita harus waspada karena kita berada di tengah-tengah dunia yang masih kental kerusakannya. Selain itu, film ini – seperti film-film yang ada sebelumnya – menitikberatkan pada percintaan antar lawan jenis. Bukanlah hal yang salah emang, tapi jika kita berpikir cemerlang, perfilman yang serupa dengan ini banyak berjejalan dimana-mana yang itu akan membentuk suatu pemikiran dan perasaan puncak bahwa percintaan lawan jenis adalah segala-galanya. Akibatnya, kecintaan kita pada ortu, saudara seiman, saudara kita yang tertindas, dan yang paling utama kecintaan kita pada Allah dan Rasul-Nya akan tersisihkan. Hal ini akan menjadikan masyarakat akan terbuai dengan persoalan cinta lawan jenis semata. Lalu, akankah kita harapkan dari mereka suatu perjuangan yang hakiki yakni perjuangan untuk dinul islam sedang kecintaan pada perjuangan Islam tidak diungkit-ungkit, tidak digembar-gemborkan, tidak diopinikan? Jawabannya jelas tidak! Dan kondisi masyakat islam pun akan tetap terpuruk seperti sekaran karena perjuangan Islam padam di benak-benak sebagian besar masyarakat
Kerusakan sistemik harus diselesaikan dengan perbaikan sistemik juga


Sebenarnya ada upaya sistemik yang menjadikan system pergaulan masyarakat kita tidak islami. Upaya sistemik itu terlihat pada kostitusi politik negara kita yang mempropagandakan kebebasan berekspresi sebagai pengejawantahan HAM. Dengan konstitusi politik ini, segala hal yang berbau seks akan dijaga atas nama HAM. Segala hal itu bisa berbentuk aktivitas maupun berbentuk media dengan segala macam jenisnya. Oleh karena itu, suatu kerusakan yang sistemik tidak bisa diperbaiki kecuali dengan sesuatu yang sistemik juga. Aturan-aturan Islam di atas akan tetap hanya tertulis dalam tulisan ini jika tidak ada perjuangan sistemik. Apakah perjuangan sistemik itu? Perjuangan sistemik maksudnya adalah perjuangan mengganti system konstitusi politik Negara yang rusak ini menjadi system koonstitusi politik yang islami – system yang undang-undangnya hanya bersandar Islam. Di sinilah perjuangan politik menuju revolusi. Dan ini hanya bisa dilakukan dalam bentuk partai politik. Maka, bagi Anda yang masih memiliki iman, perjuangan ini haruslah Anda lakukan. Jika Anda mampu, maka bergabunglah ke dalam partai politik yang kan perjuangan pergantian sistem menuju sistem Islam dalam bingkai Khilafah. Jika tidak mampu, setidaknya berilah dukungan dengan segala apa yang bisa anda berikan pada partai politik semacam ini misalnya ikut menyebarkan tulisan mereka, menyebarkan ide-ide mereka, dan sebagainya. Sungguh perjuangan Islam adalah perjuangan yang wajib dilakukan karena hal itu termasuk salah satu cara yang harus ditempuh untuk masuk ke dalam surga

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad[232] diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.(Al Imran 142)

Comments»

1. PERGAULAN ISLAMI « Read In The Name Of Allah - July 14, 2008

[…] lanjutannya di sini Ditulis dalam Pergaulan. Tag: gaul, guidance, […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: