jump to navigation

MENEROPONG KOMUNISME CINA July 2, 2008

Posted by inqilabi in Umum.
trackback

 

Sejarah Muncul Komunisme di Cina

Pada masa-masa awal, negeri Cina adalah negeri yang tertutup dengan negeri-negeri lain sehingga penjagaan adat-budaya Cina amat ketat. Hal itu berubah pada awal abad 19 Masehi. Negeri Cina mulai membuka peluang Negara-negara lain untuk masuk ke dalam negeranya. Maka muncullah negeri Inggris hendak berdagang ke negeri ular naga ini. Hanya saja, Inggris tidak hanya bertujuan berdagang saja namun juga menebar pemikiran dan budaya Barat. Mulailah saat itu, adat-budaya dan pemikiran Cina mulai bergeser. Pergeseran yang amat kentara terjadi pada akhir abad 19  Masehi, dimana pemikiran komunisme mulai mewabah pada pemikiran-pemikiran intelektual saat itu dengan ditandai munculnya buku terjemahan Origin of Species (1885). Akibat mewabahnya pemikiran tersebut, pemikiran bahwa konflik merupakan hal yang penting demi perkembangan manusia mulai meluas di otak-otak kaum intelektual. Dan akhirnya, komunisme mulai tumbuh dan kokoh ketika Ma Tse Tung yang berideologi komunisme mulai menduduki pemerintahan dengan posisi yang tertinggi setelah menggulingkan pemerintahan sebelumnya dengan kekerasan yang penuh darah dan memakan korban yang tak sedikit..

 

Bencana Komunisme di Cina

Sebentar setelah penggulingan pemimpin yang baru, Mao Tse Tung mulai menebar janji-janji kedamaian, keadilan dan kesejahteraan terhadap masyarakat Cina dengan ideologi komunisme. Namun, janji hanya sekedar janji. Mao Tse Tung mulai membangun kerja sama dengan Stalin, penguasa Diktator Uni Soviet. Hasil kerja sama tersebut membuahkan hasil berupa perang Korea oleh Cina bersama Unisoviet sebagai pemasok senjatanya. Banyak korban yang berjatuhan dalam perang tersebut hingga mencapai tiga juta jiwa. Sebuah angka korban yang tidak mencerminkan kedamaian sedikitpun.

Tidak hanya kebijakan luar negeri saja yang menyebabkan kerusakan yang luar biasa. Kebijakan dalam negeri pun tidak kalah dahsyatnya untuk menteror  kehidupan masyarakat Cina. Kebijakan dalam negeri yang dikenal Lompatan Besar Ke Depan telah menimbulkan banyak ketakutan dan bencana yang dahsyat. Dalam kebijakan tersebut, yang berlandaskan ideologi komunisme, memandang bahwa kesejahteraan akan merata bila lapisan-lapisan masyarakat dapat dihilangkan dengan menyamaratakan hak-hak individu-individu dalam masyarakat. Maka berlakulah pencabutan hak-hak individu untuk diganti dengan hak-hak masyarakat. Akibatnya, banyak masyarakat yang merasakan ketakutan. Kesalahan-kesalahan kecil saja mendapatkan hukuman yang berat. Hukuman dipermalukan, dibentak-bentak dan diolok-olok oleh masyarakat hingga hukuman mati terhadap orang-orang yang melanggar aturan meski tidak seberapa menjadi fenomena umum di masyarakat.

Salah satu agenda dari kebijakan Lompatan Besar Ke Depan adalah memindahkan masyarakat dari lahan pertanian individual menuju lahan pertanian massal. Semua masyarakat dilarang bertani individual. Bila ketahuan, maka hukuman berat siap menanti. Maka saat itu , semua masyarakat bertani secara massal bahkan yang profesinya sebagai dokter sekalipun, semuanya diwajibkan untuk melakukan kebijakan ini. Walhasil, hasil pertanian pun tidaklah optimal lantaran para pekerjanya banyak yang tidak memiliki keahlian dalam hal pertanian. Maka, agar hasil pertanian terlihat sesuai dengan patokan yang harus dipenuhi, banyak masyarakat melakukan penipuan terhadap hasil pertaniannya agar tidak dihukum oleh pemerintah. Tentu saja, ini menghasilkan angka semu terhadap hasil pertanian yang diperoleh.

Merasa angka pertanian telah membumbung tinggi melebihi kebutuhan masyarakat sendiri,  Mao Tse Tung memerintah semua masyarakat untuk beralih dari pengerjaan pertanian menuju pembuatan saluran air. Maka, dipindahkanlah masyarakat ke gunung-gunung batu untuk menggali saluran air di sana. Lagi-lagi masyarakat baik yang profesinya memang dalam bidang penggalian gunung batu atau tidak, ikut andil dalam urusan ini. Sehingga terlihat disana, anak-anak kecil, ibu-ibu, kaum perempuan yang sebenarnya tidak sesuai dalam pekerjaan ini, ikut dilibatkan. Hasilnya, juga tidak optimal.

Belum sempurna penggalian saluran, masyarakat diperintahkan untuk membuat baja sebanyak-banyaknya. Kembali lagi dengan persoalan awal, baik seprofesi atau tidak, ikut andil dalam pekerjaan ini. Demi mencapai target yang diwajibkan, segala upaya dilakukan asalkan baja terbuat. Wajan, sotel, sendok, dan apa saja yang mampu dibuat menjadi bahan baja, dilebur semua tanpa memperhatikan teknis pembuatan baja yang berkualitas tinggi. Akhirnya, memang jumlah baja meningkat tajam, tapi kualitasnya sangat rendah hingga tidak dapat digunakan kembali.

Bersamaan dengan itu, pertanian ditinggalkan sehingga hasil pertanian turun dengan drastis. Ditambah dengan angka semu hasil pertanian menjadi kloplah sudah penurunan hasil produk pangan. Maka timbullah bencana kelaparan yang dahsyat yang tidak pernah terjadi dalam sejarah. Empat puluh juta mati kelaparan dalam jangka waktu hanya dua tahun , tepatnya tahun 1960, setelah kebijakan Lompatan Besar ke Depan ini.

 

Bencana II Komunisme di Cina

Setelah merasa kebijakan Lompatan Besar ke Depan tidak dapat lagi dijalankan maka ia mundur dari public internasional. Namun, ini bukan berarti ia mundur untuk selamanya. Ia mundur untuk melancarkan program baru untuk menjamin eksistensi ideologi komunismenya. Lalu ia pun berpikir bahwa kegagalan yang dialaminya lantaran masyarakat belum memahami betul ideologi komunisme. Maka, ia pun melancarkan berbagai program untuk dipublikasikan. Salah satunya ialah pencetakan buku-buku yang berisi pidato-pidatonya yang bermuatan ideologi untuk disebarkan ke masyarakat luas dari yang tua hingga yang muda. Selain itu, pertunjukan klasik Cina yang berisikan konflik dan konflik disodorkan pada masyarakat agar memahami bahwa konflik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari seleksi alam demi perkembangan manusia harus diterima. Tidak berhenti di situ, ia dipropagandakan sebagai manusia super lewat film, spanduk, dan lainnya agar masyarakat berkiblat padanya. Lalu ia pun mewajibkan seluruh murid harus belajar buku-buku merahnya.

Seluruh program tersebut, yang dilaksanakan sekitar tahun 1966-an, benar-benar memberikan dampak yang besar dengan munculnya kelompok besar, yakni laskar merah. Laskar merah ini tediri dari para pelajar dari kecil hingga besar yang telah dicuci otaknya. Dengan semangat berapi-api dan ideologi komunisme yang mengakar di otak laskar merah, mereka digerakkan oleh Mao Tse Tung untuk melakukan revolusi budaya. Mereka mulai melakukan aksi terhadap orang-orang yang dianggap kapitalis. Maka bencanalah dan rusaklah tatanan budaya saat itu. Misalnya, guru-guru yang dianggap kapitalis atau condong pada kapitalis diperlakukan dengan tidak terhormat. Menurut persaksian, pernah ada  kejadian, 40 atau 50 guru dikumpulkan bersama-sama di lapangan sekolah untuk dipakaikan topi-topi bodoh, kertas-kertas yang bertuliskan penghinaan. Lebih dari itu, guru-guru tersebut disiram tinja hitam di kepala dan wajah mereka, membawa sapu, menaruh sepatu dan lap kotor di punggung mereka, ember berisi batu yang digantung di leher, disuruh berlutut di pecahan kaca dan meminta maaf  pada  Mao Zedong. Setelah berbagai penghinaan tersebut, mereka dipukul dan dianiaya.

Rupanya tidak hanya guru-guru saja yang menjadi sasaran, bahkan orang tua mereka pun bila terdapat tanda-tanda kapitalisme meski kecil atau bahkan hanya sekedar tidak tahu tentang isi buku merah Mao Tse Tung menjadi sasaran penghinaan pula. Mereka disuruh ruku’ dan setelah itu dihina mati-matian bahkan oleh anaknya sendiri. Pabrik-pabrik, rumah sakit dan pabrik-pabrik yang didapati dimiliki oleh orang kapitalis pun menjadi sasaran pembakaran dan penghancuran hingga tak bisa beroperasi lagi.

 

Sisa Budaya yang Mengendap

Seluruh kejadian-kejadian di atas benar-benar bencana yang tak pernah terjadi sebelumnya. Ideologi komunisme yang merupakan pelopor dari itu semua benar-benar membuktikan tidak mampu menghantarkan manusia menuju kesejahteraan dan kemuliaan melainkan konflik dan konflik yang berkepanjangan. Akibatnya, ideologi komunsime pun ditinggalkan oleh orang banyak. Namun, sisa-sisa budaya komunisme masih terdapat di bumi ini termasuk Indonesia. Budaya yang masih kental di Indonesia adalah ajang gojlokan yang terdapat di SMP, SMU, kampus dan sekolah kemiliteran untuk penyambutan anak didik baru. Dalam ajang gojlokan tersebut, terlihat jelas bagaimana senior-senior menghina, menyebut yunior-yunior dengan sebutan kotor, memarahi dan menghukum mereka meski kesalahan hanya kecil bahkan tak memiliki kesalahan, memukul mereka (biasanya di seklah kemiliteran) memberlakukan aturan-aturan yang menghinakan martabat yunior-yuniornya dengan memakai topi bodoh, pakaian plastik ‘kresek’ , tas gembel, dan asesoris orang rendahan. Kesemuanya gambaran tersebut sungguh sama dengan perlakuan laskar merah terhadap guru-guru, orangtua, dan pihak-pihak yang dianggap kapitalis dengan penghinaan yang serendah-rendahnya –seperti yang telah diulas di atas. Budaya seperti ini terjadi karena memang pemikiran dan budaya komunisme yang penuh konflik pernah masuk di Indonesia yang ditandai munculnya PKI melalui mahasiswa dan kaum intelektual lainnya. Masuknya pemikiran dan budaya komunisme tidak dibiarkan menghilang, meski banyak yang meninggalkannya, dengan menyebarluaskannya ke generasi-generasi berikutnya hingga ke tingkat SMP sekali pun. Sehingga, hingga sekarang pun, ideologi komunisme masih terasa,  terutama budaya acara gojlokan yang penuh penghinaan tersebut.

Hanya saja, banyak hal di dalam kehidupan sehari-hari yang tidak pernah terpikirkan, namun diterima begitu saja dan menjadi bagian hidup sehari-hari, dan akhirnya diterima oleh kita sebagai sesuatu yang benar. Salah satunya adalah gojlokan. Maka dari itu, artikel ini ingin menyadarkan kaum khalayak untuk memahami bahwa gojlokan yang sudah mendarah daging dengan kehidupan kita adalah buah dari komunisme yang harus kita buang jauh-jauh. Selain itu, artikel ini juga ingin menyadarkan kaum yang masih meyakini ideologi komunisme ini bahwa tak ada yang dapat dibanggakan dari ideologi komunisme dengan melihat dampak yang luar biasa rusaknya yang tak pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, marilah kita mencampakkan budaya komunisme, membuang jauh ideologi komunisme dan kembali menikmati budaya Islami dan memakai ideologi Islam.

 

Apakah hokum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hokum) siapakah yang lebih baik daripada (hokum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (al Maidah :  50)

Comments»

1. prnczlone-who-loves-history - August 2, 2008

kenapa saia search blog ini,,

karna saia butuh rfrensi buat tugas,,

tpi,

seseorang harus ada yang kritis,,

menilik sejarah,,

bertanya karena ingin tahu,,

dan tetep aja,,

yang bathil cuman bikin rusuh,,

hhe.hhe

gag jlas y?

2. rui jia - May 16, 2009

tolong klo nulis blog diliat dulu dapet sumber dari mna?? jangan cuma ngeliat dari 1 sudut pandang aj,,
dalam GLF(lompatan jauh kedepan) Mao bukan mengalihkan dari pertanian masal kpd individu tapi pertanian ke industri,, ga da pertanian masal,
hal itu didasarkan keiniginanmao menyamai inggrisdalam 15 tahun.
tolong dipertanggung jawabkan isi dari blog anda.

inqilabi - December 25, 2011

Terimakasih atas komentarnya. Apakah anda memiliki sumber yg bisa dipertanggung jawabkan? kalo memang ada pembanding silahkan dicantumkan, mari kita diskusikan dgn baik. Kalo terbukti sumber yg kami miliki lemah, kami akan revisi artikelnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: