jump to navigation

POLITIK CERDAS July 2, 2008

Posted by inqilabi in Umum.
trackback

 

 

Pada tanggal 14-15 Mei nanti, mahasiswa ITS memiliki hajatan yang besar yaitu pemilu raya yang biasa disebut dengan pemira. Semua kandidat bersama simpatisannya berkampanye kesana kemari dengan berbagai cara. Ada yang menyebarkan selebaran bergambar wajah kandidat lengkap dengan slogan-slogannya. Tidak hanya itu, semua kandidat bersama simpatisannya memasang spanduk dengan wajah lengkap dengan slogan-slogan yang senada pula. Spanduknya sendiri – pada beberapa kandidat – terlihat sangat lux, tanda simpatisannya unjuk duit yang tidak sedikit dalam kampanye ini – yang entah darimanakah uang itu berasal. Lebih dari itu, berbagai kampanye oral secara langsung terus dilakukan dari kampanye formal – yang diadakan KPU (Komisi Pemilihan Umum) – hingga kampanye nonformal atau bahasa kasarnya black campaign/kampanye gelap – yang tidak diadakan KPU tapi oleh kandidat sendiri. Intinya, berbagai cara dilakukan untuk meraih dukungan dari para mahasiswa. Hal itu dilihat dari sisi kandidat bersama simpatisannya. Dari sisi para mahasiswanya sendiri, acara Pemira ini mendapatkan sambutan yang baik dengan wujud banyaknya pertanyaan-pertanyaan dan mahasiswa yang hadir di saat kampanye baik di kantin maupun di jurusan-jurusan tertentu.

Aktivitas ini – Pemira ITS – baik dilihat dari sisi kandidat maupun dari sisi mahasiswa menunjukkan salah satu dinamika politik yang ada di ITS. Hanya saja sayangnya politik yang dipakai tidaklah politik Islam melainkan politik kapitalistik. Apa argumentasinya? Dan bagaimanakah solusinya? Berikut poin-poinnya.

1)             Cara berpolitik kapitalis salah satunya adalah ketika berkampanye lebih mengedepankan diri calonnya bukan progam-progamnya. Hal ini karena kebijakan-kebijakan konstitusi politik kapitalis bersandar pada otak-otak manusia yang seringkali berubah-ubah sesuai dengan kondisi. Coba kita lihat perundang-undangan Indonesia yang banyak sekali berubah-ubah bahkan saling kontradiksi antara satu dengan lainnya. Oleh karena perundang-undangan terus berubah maka progam dari para kandidat politik juga tidak jelas. Untuk menutupi ketidakjelasan progam-progamnya maka dipakailah slogan-slogan figur para kandidat dari calon presiden hingga calon gubernur, misalnya “bersih dan berwibaba”,“saatnya pejuang memimpin Jatim”,dst. Rupanya karakter berkampanye seperti demikianpun dipakai oleh para kandidat mahasiswa ITS yang dalam kampanyenya menyuarakan “Tolak Segala Bentuk Kapitalisme”.

Apabila kita mengamati spanduk-spanduk yang ada di sekitar kampus, maka akan kita dapati bahwa spanduk-spanduk tersebut hanya menonjolkan figur. Spanduk-spanduk yang ada tersebut hanya berisi foto, slogan, dan seruan untuk memilih calon tersebut dan tidak ada visi dan misi yang jelas yang akan dilakukan oleh para calon. Sehingga bisa jadi orang yang tidak mengerti tentang sosok calon sebenarnya akan memilih calon tersebut hanya dari slogan yang dibuat-buat dan aspek lain seperti ketampanan, kedekatan dengan pemilih tersebut dan lain-lain tanpa mengerti program-program apa yang akan dilakukan oleh calon tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah apakah mahasiswa akan disuruh memilih karena figur atau memilih karena program-program yang akan dilakukan calon tersebut? Adanya spanduk-spanduk yang hanya menonjolkan figur tersebut juga mengesankan bahwa para calon pada dasarnya hanya menginginkan posisi sebagai presiden BEM dan yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana menjadi presiden dengan meraih dukungan para mahasiswa sebanyak-banyaknya.

Meski begitu, ada sebagian kandidat yang menyangkal bahwa ia telah menunjukkan progam-progamnya, yakni menunjukkan visi dan misinya. Padahal, kita ketahui bersama bahwa visi dan misi bukanlah progam atau langkah kongkrit. Misalnya, misi suatu kandidat adalah dinamisasi mahasiswa namun langkah kongkrit secara jelas dan lugas tidak disampaikan oleh para kandidat.

Berbeda dengan politik Islam, kampanye para kandidat – andaikan cara pemilihan umum digunakan dalam proses pengangkatan pemimpin – tidak menonjolkan figurnya tapi lebih menonjolkan progamnya. Sebab konstitusi politik Islam amtalah jelas dan tetap yakni upaya mengurusi kemaslahatan umat dengan agama Islam. Agama Islam sendiri berasal dari Allah sang Maha Pencipta yang tak pernah salah dan berubah-ubah dalam membuat suatu peraturan. Inilah yang menjadikan rakyat tidak dikelabui oleh ketampanan, kefiguran dan semacamnya sebagaimana yang terjadi pada wajah politik kapitalistik sekarang.

2)             Memang tidak menutup mata, saat kampanye oral secara langsung semua kandidat mengemukakan progam-progam yang ingin dilakukan. Namun, progam-progam yang disampaikan tidaklah jelas. Ada kandidat yang menyampaikan akan memiliki progam menyatukan gerak antar ormawa dengan mengunjungi tiap-tiap ormawa. Padahal, apakah mampu sekedar kunjungan seperti itu bisa menyatukan mahasiswa yang heterogen ini? Selain ketidak jelasan progam, seringkali progam yang ada sifatnya kondisional tidak sampai menyentuh pada substansi permasalahan sehingga para kandidat tidak memperhatikan persoalan yang tidak kalah hebohnya dengan persoalan mahalnya pendidikan, misalnya persoalan gender-kepemimpinan, persoalan pendidikan yang tidak hanya mahal tapi juga makin sekuleristik, persoalan ekonomi yang tidak hanya naiknya BBM tapi juga privatisasi di segala bidang. Karena itulah, progam-progam yang ada tidak berkelanjutan dengan progam presiden sebelumnya. Selain itu, progam-progam yang ada tidak benar-benar mencerdaskan mahasiswa hingga mengerti persoalan masyarakat sebenarnya dan mengetahui solusi fundamentalnya. Misalnya, persoalan pendidikan mahal saja hanya sekedar slogan ‘tolak kapitalisme pendidikan ‘ tanpa memberikan solusi yang membangun bagaimana pendidikan agar murah sebab kita ketahui bersama pendidikan ini tidak dibiayai dengan daun tapi dengan duit. Selain itu,persoalan gender-kepemimpinan juga tidak dipersoalkan leh seluruh kandidat padahal semuanya beragama Islam dan Islam telah menggariskan di surah AnNisa34 bahwa laki-laki pemimpin perempuan. Tapi semua kandidat bungkam akan hal itu, tidak mempersoalkannya. Kalau suara agama(baca:firman Allah) saja tidak digubris apalagi suara mahasiswa nantinya???

3)             Berkaca pada kepemimpinan sebelumnya, upaya pencerdasan mahasiswa seringkali bahkan selalu hanya dilakukan ketika kampanye semata. Akibatnya, banyak progam-progam, langkah-langkah BEM khususnya BEM tidak banyak mahasiswa yang tahu. Padahal, bagaimana semua mahasiswa dalam ormawa-ormawa bisa mendukung atau berjalan bersama BEM jika sosialisasi progam dan pencerdasan mahasiswa hanya dilakukan saat kampanye? Yang ada hanyalah BEM akan terpisah secara perasaan dan pemikiran dengan ormawa-ormawa sekitarnya. Secara struktural memang bersatu, tapi secara perasaan pemikiran antara BEM dengan ormawa-ormawa di bawahnya tidak sejalan. Akibatnya BEM jalan sendiri Ormawa jalan sendiri,inikah persatuan?

Dalam politik Islam, upaya pencerdasan rakyat tidak hanya dikala kampanye – jika memang mekanisme kampanye digunakan – tapi juga pasca kampanye. Wujud konkritnya, setiap langkah baru dari seorang pemimpin senantiasa disosialisasikan di bawah dengan jelas dan gambling tanpa ditutup-tutupi arah dan targetnya sedikitpun. Selain itu, setiap ada peristiwa politik yang menyangkut kemaslahatan bersama, pemimpin senantiasa menunjukkan kepada rakyat yang dipimpinnya hakikat peristiwa politik itu apakah berbahaya ataukah tidak lalu apa langkah solusinya. Misalnya, munculnya RUU BHP semestinya tidak hanya disikapi dengan cara aksi damai di jalan, tapi juga sosialisasi kepada segenap mahasiswa boroknya RUU itu serta solusi untuk menangkalnya. Teknisnya bisa melalui pamphlet-pamflet, brosur-brosur, atau bulletin-buletin resmi BEM untuk semua jurusan. Cara menunjukkannya harus besar-besaran hingga tak satu pun rakyat dibawahnya yang tidak mengetahui. Inilah yang semestinya dilakukan oleh setiap kandidat capres BEM andai terpilih menjadi Presiden BEM. Upaya pencerdasan politik dan sosialisasi progam-progam harus terus dilakukan pasca kampanye, tidak hanya berhenti saat kampanye saja

4)             Kaderisasi kepemimpinan seringkali diabaikan dalam dinamika politik Indonesia termasuk ITS ini. Hal ini disebabkan poin yang ketiga di atas diabaikan. Selain itu, rebutan untuk menjadi pemimpin menjadi kebiasaan. Suara-suara sumbing bahwa dirinya yang terbaik secara figuratif maupun progamatif sampai-sampai sangking kepinginnya menjadi pemimpin, membuat lagu gubahan yang syairnya berisi pujian dan pentingnya ia untuk dipilih. Hal ini terjadi karena politik kapitalis memberikan kebebasan kepada para kandidat mau seperti apakah dia kalau sekiranya terpilih. Akibatnya, para kandidat punya progam sendiri yang tidak menutup kemungkinan adanya saling kontradiksi di sana. Akibat selanjutnya, kemungkinan terjadi perpecahan mahasiswa – misalnya satu kandidat merasa terpisah dengan kandidat yang terpilih yang dianggap tidak sevisi dan semisi –  berpeluang besar.

Berbeda dengan politik Islam, kepemimpinan adalah amanah yang siapapun akan menyesal jika mengabaikan amanah. Amanah kepemimpinan Islam amat jelas yakni menerapkan syariat Islam secara total bukan syariat syetan buatan manusia. Oleh karena jelasnya amanahnya, maka antar para kandidat dalam politik Islam tidak menyombongkan dirinya dialah yang terbaik di antara para kandidatnya dan mendukung siapapun para kandidat yang terpilih nantinya.

 

Khatimah

Dari penjelasan di atas,maka secara singkat dapat disimpulkan dalam tulisan ini bahwa pertama, seharusnya para calon presiden BEM menampilkan visi dan misinya jika ia terpilih menjadi presiden BEM ITS  sehingga pemilih dapat menentukan dengan benar pilihannya dan bukan hanya menonjolkan figur dirinya. Mahasiswa akan menilai mana calon yang baik yang hendak mereka pilih melalui visi dan misi yang diusung. Visi dan misi merupakan suatu hal yang urgent dalam sebuah organisasi. Visi dan misi yang tidak jelas akan menyebabkan ketidakjelasan arah dari suatu organisasi. Kedua, para kandidat jangan hanya berpikir sektoral tapi juga berpikir global sebab peristiwa politik sekarang seperti kebijakan BHP itu muncul dari upaya globalisasi kapitalisme AS. Ketiga, hendaknya upaya pencerdasan mahasiswa tidak hanya saat kampanye saja tapi juga pasca kampanye. Keempat, saling kandidat hendaknya tidak saling sikut menyikut untuk rebutan menjadi pemimpin tapi hendaknya saling membangun agar kandidat yang terpilih nanti bisa menjalankan progam dengan baik dan tidak bertentangan dengan Islam yang nantinya akan dilanjutkan oleh presiden tahun depan dan seterusnya.

Akhirnya, penulis mengucapkan selamat memilih calon Presiden BEM yang baru. Pilihlah calon presiden yang benar-benar ingin menyejahterakan para mahasiswa. Presiden memiliki andil yang besar dalam menyejahterakan mahasiswa. Oleh karena itu, jika para pemilih salah dalam menentukan, maka institusi BEM juga akan hancur karena kegagalan organisasi-organisasi terdahulu dalam membangkitkan umat salah satunya karena mereka bertumpu kepada orang yang tidak memiliki pemahaman tentang kebangkitan dan orang tersebut hanya bermodal semangat belaka sehingga jika semangatnya telah kendur maka kendur juga perjuangannya. Perlu diketahui juga bahwa setiap pilihan kita akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: