jump to navigation

Mencari Bentuk Ideal Pendidikan Dambaan Umat July 3, 2008

Posted by inqilabi in Umum.
trackback

Hari Senin, 23 Juni 2008, jam delapan pagi hingga jam dua belas siang telah terselenggara seminar yang bertema “Mencari Bentuk Ideal Pengelolaan PTN” yang diselenggarakan di Gedung Rektorat Lantai 3. Dalam seminar ini, dua pembicara memaparkan pentingnya ITS menuju BLU (Badan Layanan Umum) setelah digulirkan pentingnya ITS menuju BHP (Badan Hukum Pemerintah). Apakah BHP dan BLU? Apa hubungan antara keduanya?

BHP – badan Hukum Pendidikan – adalah sebuah status institusi pendidikan yang nantinya memiliki konsekuensi sebagai berikut:

1. Pengelolaan PTN – yang semula tangan pemerintah harus ikut campur tangan – diserahkan sepenuhnya kepada pihak pengelola PTN sendiri.

2. Otonomi pengelolaan PTN ini mencakup pada sisi pengelolaan dana dan sisi sistem kurikulum yang ada

Perlu diketahui oleh semua mahasiswa, bahwa dana pemasukan PTN dari SPP dan SPI yang kita bayarkan tidaklah langsung bisa digunakan oleh pengelola ITS, namun haruslah diserahkan terlebih dahulu ke kas Negara sebagai kas non pajak APBN atau biasa disebut PNBP – Pemasukan Negara Bukan Pajak. Baru, setelah diserahkan ke Negara, pihak PTN membuat proposal pengajuan agar dana itu cair sesuai peruntukan yang diajukan PTN dan disetujui oleh Negara. Nah, bila PTN ITS menjadi BLU, pihak PTN tidak perlu lagi menyerahkan dana pemasukan dari SPP / SPI dan dari sumber-sumber lainnya ke kas Negara akan tetapi bisa langsung diakses oleh pengelola PTN.

Selain kemudahan akses dana pemasukan, pihak PTN juga bebas mengatur diperuntukkan untuk apa saja dana pemasukan yang diperoleh dan bebas mengatur sumber pemasukannya entah dari pemberdayaan fasilitas PTN yang ada atau dari modal-modal perusahaan, misalnya menaikkan gaji dosen, membeli fasilitas pendidikan, mengadakan perayaan mewah, dan sebagainya. Lebih dari itu, pihak PTN juga bebas mengatur sistem kurikulum pendidikan

Mencari Bentuk Ideal

Sebelum kita mencari bentuk ideal pengelolaan isntitusi pendidikan, kita haruslah telah merumuskan tentang bentuk ideal itu sendiri. Sebenarnya, bentuk ideal dalam sector pendidikan bisa dirumuskan dalam tiga hal yang ringkas:

1. Kemudahan akses semua lapisan masyarakat

2. Peningkatan IPTEK dari tataran ilmu maupun tataran praktis

3. Peningkatan IMTAQ dari sisi kepribadian Islami maupun sisi tsaqafahnya

Jika mengacu pada rumusan ini dan melihat gambaran fakta seperti apakah BLU di atas, ada beberapa poin keburukan yang bakal ditimbulkan jika BLU benar-benar digulirkan pada PTN:

1. Sebagai badan semi otonom, PTN yang ber-BLU akan bersifat mandiri baik dari sisi pemasukan dan pendanaan. Artinya, subsidi pemerintah pada pendidikan bakal berkurang sebagai tahap persiapan PTN ber-BLU dimana pemerintah amat minim – jika tidak boleh dikatakan lepas tanggung jawab – terhadap subsidi pendidikan. Akibatnya, beban biaya pendidikan akan dialihkan sebagian besar masyarakat karena sektor pemasukan yang amat strategis adalah dari sektor ini.

2. Bebasnya pengelolaan dana pemasukan PTN dikhawatirkan hanya diperuntukkan pengembangan-pengembangan fasilitas – yang nantinya mahasiswa pun dikenai sewa –, kenaikan gaji-gaji dosen, perayaan-perayaan tradisi PTN setempat. Sedangkan dana untuk kesejahteraan mahasiswa dalam bentuk SPI/SPP murah, beasiswa dan sebagainya adalah minimal sekali.

3. Bebasnya sumber pemasukan PTN hingga membolehkan dari investasi perusahaan akan berpotensi pada perubahan kurikulum pendidikan ke arah pasar. Artinya, mata kuliah-mata kuliah yang tidak terlampau diperlukan oleh pihak perusahaan akan dihilangkan, begitupun sebaliknya. Hal ini akan menelurkan mahasiswa-mahasiswa kelas buruh sebab memang dididik untuk menjadi buruh perusahaan bukan sebagai pemikir pencetus IPTEK yang terbaru. Yang lebih parah, jika bersandarkan pada pasar, maka sisi IMTAQ dalam mata kuliah agama akan dihapus dari sistematika pendidikan karena pasar tidak menghendaki. Maka, jadilah mahasiswa-mahasiswa yang kosong iman dan taqwa dalam kehidupannya.

Berbeda dengan BLU, Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan pokok setiap penduduk. Untuk menjamin kebutuhan ini, Islam menyerahkan tanggung jawab pengelolaan pendidikan kepada Khilafah (Institut Negara berbasis Islam). Negaralah yang mengatur kurikulum pendidikan di beberapa sector daerah menurut pertimbangan khalifah (pemimpin di system khilafah). Khilafah pula yang mendanai sector pendidikan sepenuhnya sehingga masyarakat baik yang kaya maupun yang miskin, baik yang muslim maupun yang non muslim bisa mengaksesnya.

Dalam system pendidikan Islam, segi IPTEK dan segi IMTAQ amatlah diperhatikan. Untuk segi IPTEK, Islam mengarahkan agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelajari amat bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat sehingga ilmu yang didapat bermanfaat untuk kemaslahatan masyarakat sekaligus perkembangan ilmu. Pendidikan Islam menghindari pelajaran ilmu yang jumud, beku, hanya demi kepuasan akal semata. Tidak seperti sekarang, banyak pelajaran-pelajaran yang hanya sekedar mengasah otak tapi miskin faedah bagi masyarakat

Untuk segi IMTAQ, pendidikan Islam mengarahkan materi pendidikan mampu menguatkan aqidah, tsaqafah dan kepribadian Islam. Dengan penanaman ini, akan terciptalah siswa-siswa unggulan baik dari sisi IPTEK maupun IMTAQ-nya.

Kita tentu mengenal Imam Syafi’I yang karena tingginya tsaqafah yang ia dapatkan dari system pendidikan Islam kala itu, membuat ia mampu membuat suatu kitab-kitab, ilmu-ilmu ibadah dan sebagainya yang hingga sekarang kita masih gunakan. Kita pun tentu mengenal Al-Khawarijm yang menciptakan system perhitungan dengan angka nol yang hingga sekarang amat bermanfaat bagi kita semua di jurusan apapun kita. Inilah bukti betapa idealnya system pendidikan Islam.

Khatimah

Dari penjelasan di atas, Nampak jelas bahwa progam BLU memiliki banyak kerusakan dalam persoalan sumber dana yang rawan memberatkan beban mahasiswa dan juga rawan intervensi asing dalam perubahan kurikulum melalui investasi-investasi perusahaan asing. Sedangkan system pendidikan Islam yang mengacu pada Islam, mampu menjawab semua tuntutan bentuk ideal suatu pengelolaan pendidikan. Oleh karena itu, jika kita ingin mencari bentuk ideal system pendidikan, tidak ada kata lain selain system pendidikan Islam

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: