jump to navigation

Kartini Sesungguhnya August 16, 2008

Posted by inqilabi in Umum.
trackback

Bulan april identik dengan kaum perempuan, tanggal 21 april adalah hari bersejarah bagi perempuan, yang mana pada hari itu sekitar 140 tahun yang lalu telah ada seorang muslimah yang memperjuangkan nasib perempuan, mengangkat perempuan dari kungkungan kebodohan. Muslimah pejuang itu adalah Kartini.
Perjuangan kartini sekarang tinggal sejarah.Sejarah adalah penggal waktu yang ditinggalkan.Sejarah, hanyalah saksi bisu yang bergantung pada kacamata manusia yang membacanya.Sejarah bisa berarti berbeda jika kacamata baca manusia juga berbeda.
Tentang sejarah perjuangan kartini, benarkah kartini menginginkan kaum perempuan mengejar kesetaraan kedudukan dengan kaum laki – laki di segala bidang ? Seperti yang banyak didengungkan kaum feminis. Jangan – jangan kita bukannya menjadi penerus perjuangan kartini, tapi malah sebaliknya, menjadi pengkhianat kartini.Momen 21 april ini adalah saat paling tepat bagi kita untuk menganalisis kembali sejarah perjuangan kartini secara obyektif….
Yang popular dipahami dan dicatat dari sejarah perjuangan kartini selama ini adalah semangat emansipasi untuk menjadikan kaum wanita mempunyai hak yang sama dan sejajar dengan kaum laki – laki, sehingga yang terlihat kemudian adalah wanita Indonesia ( feminis ) yang tergopoh – gopoh untuk menempatkan diri pada posisi – posisi yang didominasi oleh kaum pria. Bahkan, momen peringatan kartini juga dimanfaatkan oleh kementrian pemberdayaan perempuan untuk menindak perda –perda ( peraturan daerah ) yang dipandang mendiskriminasikan perempuan ( sampai sekarang ini diperkirakan ada 50 perda yang dianggap diskriminatif ).Menteri pemberdayaan perempuan,Meutia hatta swasono, dan dirjen HAM Depkum HAM harkristuti harkrisnowo, mengatakan bahwa pihaknya akan mendesak agar perda itu dicabut, karena kontradiktif dengan prinsip kesetaraan gender di segala sektor. Meutia mengatakan “ Masa sekarang makin banyak perda yang tidak pro perempuan dan justru membatasi gerak perempuan” (Jawa pos,23 April 2007 ).
Dengan alasan emansipasi perempuan juga, kaum feminis menginginkan kuota 50% untuk perempuan di pemilu 2009 agar persoalan yang banyak menimpa perempuan( dalam asumsi mereka ) dapat diselesaikan, dengan perkiraan semakin banyak perempuan di sektor publik maka persoalan perempan akan terselesaikan, benarkah ????? Yang lebih parah lagi kata emansipasi telah bergeser kearah perjuangan gender dan ide – ide penentangan terhadap fitrah wanita yang memang berbeda dengan laki – laki.

Kartini,keturunan ningrat dengan ketatnya kungkungan adat – istiadat dan pengaruh kebebasan barat.
Kartini tumbuh dalam dua suasana dan pemikiran yang saling bertentangan satu dengan yang lain. Sebagai keturunan ningrat, dia dikungkung oleh adat – istiadat yang ketat. Di sisi yang lain, karena keningratannya, memungkikannya memiliki teman – teman dari Belanda yang mengagungkan kebebasan. Dari surat – surat kartini yang terhimpun, nampak bahwa jalinan persahabatan ini telah menyumbangkan sebuah pemikiran tersendiri bagi perkembangan pemikirannya.Di tengah kuatnya dominasi adat, Kartini berani berdiri untuk menentang semua adat itu. Kartini menentang adat Jawa yang membedakan manusia berdasarkan keturunan, sebaliknya dia memahami bahwa setiap manusia sederajat dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Kebencian terhadap adat yang diskriminatif ini mendorongnya untuk mengintip dan membandingkannya dengan nilai – nilai yang berlaku di Eropa dari teman – teman Belandanya. Ini dapat dilihat dari petikan suratnya: “ Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik – baik, orang baik – baik itu meniru kebiasaan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa “ ( Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899 ).Kartini menyimpulkan pangkal kemunduran dan rendah diri masyarakat saat itu adalah mundur dan minimnya pendidikan yang mereka rasakan. Kaum pribumi adalah kaum terbelakang dan bodoh. Pendidikan menjadi hak paten bagi kalangan ningrat dan para penjajah. Maka titik tolak perjuangan Kartini diawali dengan membenahi pendidikan di kalangan pribumi, tak terkecuali wanita. Kartini membuat nota yang berjudul “ Berilah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa “ kepada pemerintah kolonial yang berisi kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda.

Kartini setelah mengaji….

Sulit bagi Kartini bertahan di lingkungan yang bertentangan dengan pemikirannya. Di tengah kuatnya kungkungan adat dan derasnya serangan pemikiran Barat, Kartini mencoba mencari jawaban atas pertanyaan – pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Tahun – tahun terakhir sebelum dia wafat, dia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Ajaran Islam yang semula tidak mendapat tempat dalam benaknya dikarenakan pengalaman yang tak mengenakkan dengan ustadzah yang menolak menjelaskan makna ayat yang sedang diajarkan.
Hal ini dapat dilihat dari surat beliau : “ Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebanarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak bolah memahaminya? Al – Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada yang bisa mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al- Quir’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Ku pikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar tentang maknaya yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku bahasa Inggris, aku harus hafal satu demi satu kata, tapi tidak satu patah katapun yang kau jelaskan padaku apa artinya. Tidak jadi orang soleh pun tak apa, asal jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella?” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899 ).
Namun pertemuannya dengan Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang telah merubah segalanya. Kartini tertarik pada terjemahan surat Al-Fatihah yang diajarkan Sang Kyai. Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya bertemu dengan Sang Kyai. Terjadilah dialog yang ditulis oleh Nyonya Fadhilah Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat sbb : “ Kyai perkenankan saya menanyakan bagaimana hukumnya apabila seseorang yang berilmu namun menyembunyikan ilmunya?” Kyai Darat tertegun dengan pertanyaan tersebut dan balik bertanya, “ Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” .“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al – Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan main syukur rasanya hatiku pada Alloh. Namun aku heran tiada habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al – Qur’an dalan bahasa Jawa. Bukankah Al – Qur’an itu adalah kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Darat tergugah untuk menterjemahkan Al – Qur’an ke dalam bahasa Jawa dan menjadikan terjemahan Al-Qur’an ini( Faizur Rohman fi Tafsiril Qur’an ), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz sebagai hadiah pernikahan Kartini. Maka mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Namun sayang, tak lama setelah itu Kyai Darat meninggal sebelum sempat menyelesaikan terjemahan seluruh Al – Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Andai saja Kartini sempat belajar keseluruhan agama Islam, bukan mustahil dia akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan ajarannya. Kartini memiliki modal ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Hal ini terlihat, jika pada mulanya beliau adalah sosok yang paling keras menentang poligami, tetapi setelah belajar Islam, beluai mau menerimanya.

Wahai Penerus Perjuangan Kartini

Upaya untuk menterjemahkan perjuangan Kartini oleh kaum wanita Indonesia sekarang ini nampaknya telah melampaui batas. Petikan surat berikut ini menegaskan kesalahan penterjamahan tersebut: “ Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak – anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuagan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannnya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama – tama.” ( Surat Kartini kepada Prof. Anton&Nyonya, 4 Maret 1902)
Dalam petikan surat tersebut, tak ada sepatah katapun yang mengajarkan wanita untuk mengejar persamaan hak , kewajiban, kedudukan dan peran agar sejajar dengan pria.
Kartini mengupayakan pengajaran dan pendidikan bagi wanita semata – mata demi peningkatan taraf berpikir mereka agar lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai seorang wanita.
Tampak juga terjadinya perubahan pemikiran pada diri Kartini selanjutnya ketika ia mengatakan dalam tulisannya “…tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar – benar satu- satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat Ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradapan?” ( Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902 )
KUMPULAN SURAT – SURAT TERSEBUT DIBUKUKAN DENGAN JUDUL “ Door Duisternis Tot Licht “ atau “ Habis Gelap Terbitlah Terang “. Tampak bagaimana Kartini berusaha memenuhi seruan dalam QS.Al – Baqarah 193 : minazh-zhulumaati ilan Nur ( dari kegelapan menuju cahaya ), yang mendorongnya untuk merubah diri dari pemikiran yang salah kepada ajaran Alloh.

Konklusi
Tujuan perjuangan Kartini yang sesungguhnya adalah mengajak setiap muslimah untuk menjadi lebih baik dengan berusaha memegang teguh ajaran agamanya. Serta mengajak muslimah untuk berpikir jernih dan mendalam, sehingga muslimah tidak pernah terjebak dalam perjuangan feminis dalam menyelesaikan permasalahan perempuan yang notabene adalah persoalan laki – laki juga. Kaum feminis = pengkhianat perjuangan Kartini

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: