jump to navigation

Kembali Ke Fitrah August 16, 2008

Posted by inqilabi in Uncategorized.
trackback

Definisi Fitrah
Makna fitrah haruslah kita ambil dari segi makna bahasa – yakni asal bahasa kata tersebut – yang berarti ciptaan. Adapun dari segi makna syar’i – yakni diambil dari wahyu Allah – dapat ambil maknanya dari salah satu firman Allah

Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ((ar-Rum [30]:30)

Menurut Ibnu Atsir, dalam menjelaskan fitrah Allah pada firman Allah di atas, fitrah itu tidak lain adalah karakteristik penciptaan manusia dan potensi kemanusiaan yang siap untuk menerima agama1). Maksudnya, karakter manusia pada umumnya adalah senang dan rela menerima kebenaran dan menolak kebatilan. Oleh karena itu, Imam Zamakhsyari pernah mengatakan, seandainya setan berbentuk jin dan setan berbentuk manusia ditiadakan, niscaya manusia hanya akan memilih kebenaran itu (Al-Fa’iq, III/128). Namun, lantaran adanya setan jin dan setan manusia yang senantiasa berusaha membelokkan manusia dari fitrahnya, maka sering sekali kita jumpai manusia-manusia – bahkan mungkin kita – yang merasa berat menerima kebenaran dan menolak kebatilan.

Sebagai contoh, kita memiliki rasa cinta dengan lawan jenis, takut dengan tempat yang menyeramkan, butuh dengan orang lain, itu adalah fitrah sebagaimana kita lebih senang dengan kebenaran dibandingkan kesalahan semisal kita lebih memilih teknik menggambar yang tepat dibandingkan teknik menggambar yang membingungkan bahkan salah. Namun, karena setan selalu menggoda manusia sehingga fitrah manusia untuk memilih kebenaran dan menolak kebatilan seolah-olah lenyap.

Menjaga fitrah Allah
Untuk menjaga fitrah Allah perlu adanya aturan. Aturan tersebut haruslah tepat pada sasaran sebab bila tidak akan bertentangan dengan fitrah. Di dalam dunia ini banyak sekali aturan-aturan yang ada. Di situ terdapat aturan atau cara hidup sekulerisme, komunisme, dan agama. Untuk cara hidup sekulerisme2) menafikan Tuhan sebagai pengatur kehidupan di dunia, namun mereka mengakui keberadaannya. Ini melanggar fitrah, karena fitrah manusia itu lemah, serba kekurangan sehingga amat membutuhkan bimbingan Allah. Jadi, ketika sekulerisme dijadikan rujukan justru menyimpang dari fitrah sebagai manusia yang serba lemah dan salah. Maka dari itu, kaum muslimin yang melakukan berbagai kemaksiatan seperti bergaul bebas, bergaya seperti orang kafir meski dia mengakui bahwa Allahlah yang patut ditaati sejatinya sudah melenceng dari fitrahnya yang akan menuai kehancuran dan kehinaan.

Begitu pula komunisme3), ia tidak hanya menafikan Tuhan sebagai pengatur dunia tapi juga menafikan adanya Tuhan atau dengan kata lain tidak mengakui adanya Tuhan. Hal ini bertentangan denga fitrah manusia, sebab manusia memiliki naluri mempertuhankan sesuatu untuk disembah. Buktinya, nenek moyang kita memiliki banyak sesembahan bahkan hingga sekarang, terlepas apa yang dia sembah itu benar atau salah.
Dari keterangan di atas, telah jelas ideologi4) sekulerisme maupun komunisme tidak bisa dijadikan pijakan untuk menjalani kehidupan karena karakternya yang bertentangan dengan fitrah manusia. Karena kedua ideologi di atas telah tertolak, kini tinggal agama. Seperti yang dipahami, di dunia memiliki banyak agama dan kepercayaan. Namun,

seluruh agama lebih cenderung mengatur pada aspek iabdah ritual semata. Meski, ini tidak menyalahi fitrah manusia yang memiliki naluri berketuhanan, tapi ini mempedulikan atau membiarkan aspek-aspek fitrah manusia yang lain misalnya adab berpendapat, cara bersuci, cara bergaul, konsep ekonomi, konsep politik dan lain sebagainya yang berhubungan dengan manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan manusia lain serta alam sekitarnya. Aturan atau cara hidup terhadap aspek ini amat perlu juga diperhatikan karena sebagai manusia, sudah menjadi fitrah akan berhubungan dengan semacam itu. Jika dibiarkan oleh agama, lantaran di dalam agama tidak memiliki konsep itu, tentu akan membiarkan nafsu yang menjadi pemimpin atau pengatur manusia sehingga akan rusaklah dunia ini, meski ia beribadah ritual.

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah kamu dapat menjadi pemeliahara atasnya? Ataukah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (al-Furqan [25]: 43-44)

Dari situ, maka diperlukan agama yang sekaligus bisa dijadikan ideologi. Itulah Islam, satu-satunya agama yang paripurna yang tidak hanya memandang aspek ritual semata tetapi juga memandang aspek-aspek fitrah yang lain. Islam mengatur bagaimana tatacara sholat secara gambalang sebagaimana Islam mengatur adab berbeda pendapat, Islam mengatur wudhu dengan jelas sebagaimana Islam menjelaskan adab bergaul, Islam mengatur puasa dengan jelas sebagaimana Islam memberikan konsep perekonomian, Islam mengatur puasa dengan gamblang sebagaimana Islam memberikan konsep politik berikut pemerintahannya dalam bentuk khilafah, dan seterusnya. Begitu gamblangnya Islam dan luasnya aturannya, mencakup segala aspek, menandakan bahwa Islam memandang setiap aspek fitrah manusia perlu memiliki aturan dari Allah yang telah menciptakannya dan Dia lah yang Maha Tahu atas fitrah tersebut, jika tidak maka otomatis yang mengatur manusia adalah hawa nafsu.

Hal ini dapat dipahami, ketika manusia menjadikan hawa nafsunya sebagai pengaturnya, asas manfaat akan menjadi penentu apa dia melakukan atau tidak. Dalam pandangan manusia, manfaat yang paling menonjol adalah kelezatan dan kenikmatan materi. Kenyataan seperti ini akan membawa manusia berbuat semaunya asalkan itu nikmat secara duniawi. Ketika ini terjadi maka hancurlah kehidupan. Ambil aspek sosial dalam hal seks bebas. Di AS, sejak tahun 1973 sampai tahun 2002 seks bebas telah mengakibatkan 42 juta aborsi atau 4000 perhari (http//www. Guttmacher. org/pubs/2005/05/18/ab_incidence.pdf). Sekarang aborsi diperkiran 2 juta/tahun (begitu pula di Indonesia). Jumlah ini lebih banyak ketimbang total korban Perang Vietnam (58.151 jiwa) + perang Korea (54.246 jiwa) + PD II (407.316 jiwa) + PD I (116.708 jiwa) + Perang Sipil Amerika (439.332 jiwa) (http://www.aborsi.org/statistik.htm)

Kembali ke Fitrah, Kembali ke Syariah
Penyimpangan manusia dari fitrahnya sebagai makhluk yang membutuhkan aturan-aturan dari sang Pencipta (syariah) terbukti membwa banyak akibat buruk. Karena itu, manusia harus kembali ke fitrahnya yakni kembali mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap setiap saat menerima kebenaran. Kebenaran itu tidak lain adalah Islam. Namun, bila kita tidak mau mengembangkan potensi di dalam diri kita dalam artian tidak memanfaatkan hati yang mampu memahami kebenaran, mata yang mampu melihat kebenaran, telinga yang mampu mendengar kebenaran tapi cenderung memanfaatkan potensi tersebut hanya untuk duniawi, hanya untuk kesenangan yang sesaat dengan berhura-hura, menjalani hidup ala kadarnya, maka bacalah firman Allah ini
Mereka memiliki hati tapi tidak dipakai untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka memiliki mata tapi tidak dipakai untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka memiliki mata tapi tidak dipakai untuk melihat (kekuasaan Allah), mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya (ar-Rum 30)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: