jump to navigation

Komentar Balik MLM August 16, 2008

Posted by inqilabi in Umum.
trackback

Komentar MLM

Assalamualaikum wr.wb.


untuk yang pertama saya membeli barang kula’an senilai 2 juta lalu saya jual…
sementara di tianshi saya juga kula’an 2 juta lalu saya jual juga….

untuk toko saya pribadi saya besarkan lalu saya membuat segala sesuatunya serba teratur layaknya toko sakinah yang mempunyai sistem pengaturan yang amat teratur dan rapi….lalu saya bekerja sama dengan rekan saya,rekan B mendirikan toko sakinah 2 dengan cara saya menawarkan sistem yang saya buat tadi. Kita sepakat dimana dalam kesepakatan itu Saya yang buat dan mengatur segala pengaturan tentang toko sakinah 2 diatur oleh saya ya perekutan pegawainya ya tata letak tokonya yaa segala macem yang ada saya yang mengatur publikasi dan lain-lain sedangkan dia bagian membiayai,untung juga dibagi sesuai kesepakatan.DEAL jalan akhirnya…

lanjut…saya membangun lagi sakinah 3 saya tawarkan ke teman C dia setuju juga membangun sakinah 3 DEAL kita kerja sama seperti tadi(rekan B)

Eh rekan B ada usul untuk dia menawarkan lagi sistem saya ke rekannya si D karena si D tertarik ingin punya sakinah 4.Oke kita mencari jalan sepakat dalam pembicaraan bisnis ini. ternyata disepakati sistemnya Transparansi untung rugi jelas,semua sudah sepakat dan paham tentang apa-apa yang menjadi tugas masing-masing…akhirnya jalan…..

lanjut akhirnya si C juga melakukan hal yang sama dengan rekan saya yang B dan hal ini berlanjut terus…sampai ke ujung dunia menjadi toko sakinah yang ke 1000 dan menjadi besar seperti halnya Ramayana…

nah apakah itu HARAM Mz?

TANGGAPAN

Assalamualaikum
Sebagai prolog ana memohon ampunan kepada Allah atas segala apa yang kulakukan selama ini karena boleh jadi kebenaran yang keluar dari mulutku tidak adik pahami karena banyaknya dosa yang telah kuperbuat. Selain itu, saya memohon pada Allah agar dibukakan pintu hidayah bagi adik Imam agar bisa memahami realitas MLM dan – yang tak kalah pentingnya – realitas perjuangan Islam sesungguhnya.

Tentang Hukum MLM pada Tianshi
Sesungguhnya realitas yang adik gambarkan pada saya tentang apa itu Tianshi sudahlah saya pahami jauh hari sebelum saya ketemu dengan adik Imam karena memang sejak SMA kelas 2 saya sudah dikenalkan dengan perusahaan ini.
Pertama, saya akan menanggapi kesalahan analog yang adik gunakan, yakni menganalogkan aktivitas MLM Tianshi dengan aktivitas kulaan. Aktivitas kulaan amat berbeda dengan aktivitas muamalah MLM. Yang paling fundamental adalah dalam aktivitas kulaan, kita tidak terikat dengan tempat dimana kita kulaan. Coba deh adik bandingkan! Misalnya, saya kulaan obat pada toko A dengan sejumlah uang sehingga saya mendapatkan beberapa obat. Ketika transaksi jual beli dengan toko A usai, usai pulalah transaksi di antara kami. Toko A tidak perlu tahu dan mengurus apakah obat-obat yang saya beli benar-benar saya jual atau saya makan sendiri, atau bahkan saya buang ke tong sampah. Toko A tidak turut campur dengan laba yang saya terima dari hasil penjualan tersebut. Hal ini berbeda dengan aktivitas MLM.
Dalam aktivitas MLM termasuk Tianshi, kita terikat dengan perusahaan dimana kita membeli barang. Telah adik ketahui bahwa untuk membeli barang ke Tianshi, ada yang disebut sebagai konsumen dan ada yang disebut sebagai distributor. Bagi siapa yang menjadi distributor, ia akan mendapatkan obat-obatan Tianshi yang lebih murah ketimbang menjadi konsumen. Hanya saja – sebagaimana sebutannya – untuk menjadi konsumen tidaklah perlu mendaftarkan diri pada perusahaan ini sebagaimana kita membeli bakso ke warung bakso. Dalam aktivitas sebagai konsumen ini, bolehlah kita lakukan. Dan kalo memang adik ingin memasarkan obat-obatan Tianshi secara halal, seharusnya adik sebagai konsumen barang Tianshi saja bukan sebagai distributor. Dengan sebagai konsumen, adik tidak terikat dengan perusahaan MLM dan perusahaan MLM Tianshi tidak perlu repot-repot mentraining adik, mencatat range kepemimpinan adik, memotivasi adik untuk mengajak orang lain bergabung dan sebagainya. Itulah yang disebut kulaan! Namun, yang adik lakukan tidak demikian. Adik memilih menjadi distributor yang mengharuskan adik membeli barang dengan sejumlah uang tertentu sekaligus terikat dengan perusahaan MLM Tianshi. Inilah perbedaan kulaan dengan distributor model MLM. Karena perbedaan fakta maka hukum Islam atas keduanya tidaklah sama.
Telah jelas sudah apa perbedaan konsekuensi antara menjadi konsumen dengan menjadi distributor. Jika adik menjadi konsumen barang MLM Tianshi, adik tidak terikat dengan perusahaan MLM Tianshi. Begitu pula sebaliknya, Jika adik menjadi distributor barang MLM Tianshi, adik terikat dengan perusahaan MLM Tianshi. Sebagai distributor, adik haruslah mendaftar kepada perusahaan MLM Tianshi dengan sejumlah uang, dalam aktivitas ini adik sedang dalam tahap yang disebut transaksi. Sesungguhnya, sudahlah jelas adik mendaftarkan diri ke Tianshi sebagai distributor. Sehingga, semestinya transaksi yang dilakukan hanya menimbulkan satu akad yaitu hanya sebagai distributor. Namun, yang terjadi tidak demikian. Transaksi yang dilakukan menimbulkan dua akad, yaitu selain sebagai distributor juga sebagai konsumen. Buktinya telah jelas, adik mendapat poin dari perusahaan MLM bila mampu memasarkan barang MLM Tianshi dan mendapat poin pula dari perusahaan MLM bila membeli barang MLM Tianshi. Inilah 2 akad dalam 1 transaksi! Ini jelas, tidak samar, tidak kabur bahwa MLM Tianshi telah melakukan larangan Islam terhadap aktivitas dua akad dalam satu transaksi. Satu hukum Islam ini saja sebenarnya sudah cukup bagi Adik untuk melihat keharaman aktivitas MLM ini.
Nabi saw. Telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian (Ahmad, an-Nasa’I, at Tirmidzi dari Abu Hurayrah)
Rasulullah saw. Telah melarang dua kesepakatan (akad) dalam satu kesepakatan (akad)(al-Bazar, Ahmad, Ibnu Masud)
Hal di atas berkenaan dengan dua akad dalam satu transaksi. Sekarang, saya akan mencoba menanggapi fakta kedua dari aktivitas MLM yakni dari segi pemasaran barang MLM. Telah adik jelaskan dengan gamblang kepada saya tentang mekanisme pemasarannya dengan analog sakinah1 hingga sakinah1000. Sesungguhnya, dengan penggambaran yang adik sampaikan itu justru makin memperkuat segi keharaman mekanisme pemasaran MLM. Coba adik membaca lagi buku hokum Islam terhadap MLM hal 29 hingga 30 tertulis di sana
“pemakelaran itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, yang berstatus sebagai pemilik (malik). Bukan dilakukan oleh seseorang terhadap sesame makelar yang lain. Karena itu, memakelari makelar atau samsarah ala samsarah tidak diperbolehkan. Sebab, kedudukan makelar adalah sebagai orang tengah (mutawassith), atau orang yang mempertemukan (mushlih), dua kepentingan yang berbeda; kepentingan penjual dan pembeli. Jika dia menjadi penengah orang tengah (mutawassith al mutawassith), maka statusnya tidak lagi sebagai penengah. Dan gugurlah kedudukannya sebagai penengah, atau makelar. Inilah fakta makelar dan pemakelarannya.”
Adik, setinggi apapun bintang yang diraih dari bintang satu hingga bintang delapan, bukanlah pemilik barang-barang Tianshi secara keseluruhan karena memang bukanlah adik dan para distributor MLM lainnya yang memiliki perusahaan ini. Jadi, tidaklah sah – dalam kacamata Islam – status makelar yang adik sandang termasuk para distributor lainnya berapapun bintangnya karena menjadi penengah orang tengah (mutawassith al mutawassith). Ini jelas, tidak samar, tidak kabur bahwa MLM Tianshi telah melakukan larangan Islam terhadap aktivitas samsarah ala samsarah (makelar atas makelar). Dua hukum ini telah cukup untuk menegaskan aktivitas MLM Tianshi haram.
Mungkin pihak distributor lainnya akan mencoba meyakinkan adik bahwa mekanisme pemasaran ini sama halnya dengan sebuah perusahaan yang memiliki anak-anak cabang perusahaan. Padahal analog ini sangatlah berbeda! Tidaklah sama antara mekanisme anak cabang perusahaan dengan mekanisme makelar atas makelar. Sebuah anak cabang perusahaan layaknya perusahaan pusat terdiri dari direktur, sekretaris, bendahara, pegawai, buruh. Yang paling fundamental adalah anak cabang perusahaan tidak memiliki hak untuk membuat anak cabang di bawahnya lagi. Berbeda dengan makelar atas makelar, dimana bintang delapan layaknya ‘pemilik perusahaan pusat’ membuka cabang pada bintang bawahnya – bintang tujuh. Bintang tujuh layaknya ‘pemilik perusahaan pusat’ membuka cabang pada bintang bawahnya lagi – bintang enam – dan seterusnya. Hal ini sesuai dengan penggambaran yang adik berikan pada saya yang justru makin mempertegas perbedaan fundamental antara anak cabang perusahaan dengan mekanisme makelar atas makelar.
Inilah hukum MLM Tianshi yang telah jelas melakukan larangan islam, yakni 2 akad dalam 1 transaksi dan makelar atas makelar.
Perjuangan Islam
Dalam pembahasan ini sebenarnya sudah keluar dari pembahasan MLM. Namun, saya perlu jelaskan kepada adik agar tidak termakan fitnah, penglurusan pemahaman Islam dan tidak salah paham dengan saya sebagai seorang aktivis Hizbut Tahrir Indonesia
1. Adalah benar jika kita memiliki masalah, kita melakukan shalat Istikharah agar Allah mau memberikan hidayah-Nya. Hanya saja, kita harus memposisikan yang tepat bahwa shalat istikharah adalah sunnah bukan wajib. Yang wajib adalah kita sebagai seorang muslim harus senantiasa belajar dan belajar untuk mencari kebenaran. Adalah salah untuk menetapkan apakah sesuatu itu halal atau haram dengan shalat istikharah saja tanpa ada aktivitas belajar. Jadi, yang meski kita lakukan tetap mencari kebenaran, membandingkan pendapat yang satu dengan pendapat yang lain. Apa yang saya jelaskan kepada adik tentang hokum MLM hanyalah penjelasan dari pendapat seorang mujtahid. Jadi, kalau memang adik tidak setuju dengan saya, semestinya adik mencari seorang mujtahid yang membenarkan aktivitas MLM dan jelaskan kepada saya bagaimana mujtahid itu membenarkan aktivitas MLM ini.
2. Tentang persoalan rezeki sebenarnya sudah jelas bahwa rezeki itu datangnya dari Allah sebagaimana banyak ayat-ayat-Nya (Arrum 40) (Yasin 47) (Ali Imran 37) (Al Ankabut 60) dan banyak lainnya. Meski begitu, adik harus paham, pengertian bahwa rezeki itu berasal dari Allah tidak serta merta membuat kita berpangku tangan menunggu uang jatuh dari langit. Kita tetap berikhtiar karena memang Allah menyuruh kita demikian sebagaimana ayat Al Jumuah 10 dan banyak lagi ayat lainnya. Artinya, besar kecilnya pahala yang diberikan Allah ditentukan oleh besar tidaknya ikhtiar kita bukan besar tidaknya rezeki karena memang rezeki datangnya dari Allah. Dan upaya kita menjadi wasilah turunnya rezeki itu
3. Ayat kuda yang adik berikan pada saya adalah ayat Al Anfaal 60. Artinya
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”
Untuk ayat ini, HT memberikan penjelasan yang bertolak belakang dengan tuduhan adik. Silahkan adik baca buku Mafahim Hizbut Tahrir halaman 77. Dijelaskan disana
“Hukum yang terdapat dalam ayat ini adalah mengenai persiapan kekuatan. Sedangkan masalah yang terjadi saat itu diatasi dengan memeprsiapkan fisik, diantaranya dengan cara menambatkan kuda-kuda. Adapun bentuk (arah) ‘illat dari hokum tersebut adalah untuk menakut-nakuti msuh. Karena itu, apabila saat ini kita hendak mengambil hokum mempersiapkan kekuatan dari dalil tersebut, kita harus memperhatikan segi ‘illat dari hokum tersebut, yaitu mempersiapkan segala hal yang dapat menakut-nakuti musuh. Kita tidak boleh terikat dengan apa yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah yang pernah terjadi pada saat itu, sebagaimana yang tercantum dalam nash, yaitu harusn menambatkan kuda.”
Ayat ini berkenaan aktivitas jihad, tidak lebih. Penafsiran HT juga tidaklah saklek bahwa untuk menghadapi Amerika adalah dengan kuda tapi bisa dengan nuklir sekalipun asal bisa menggetarkan hati musuh Allah. Inilah penafsiran yang benar dan bertolak belakang dengan tuduhan yang Adik
4. Adik telah mencampur aduk antara aktivitas jihad dengan aktivitas muhasabah. Ayat al Anfaal 60 itu adalah ayat yang berkenaan dengan aktivitas jihad! Tidak bisa disangkutpautkan dengan aktivitas muhasabah! Aktivitas muhasabah adalah aktivitas mengoreksi penguasa atas kebijakan-kebijakan yang mendzalimi rakyat seperti kenaikan BBM, privatisasi BUMN dan sebagainya yang ini justru diperintahkan oleh Islam
“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran kepada penguasa yang zhalim” (HR. Abu Dawud)
“Penghulu syuhada adalah Hamzah dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa yang dzalim, menyerukan (kepadanya) untuk berbuat baik dan melarangnya (berbuat kemungkaran), kemudian ia dibunuh “ (HR. Hakim dari Jabir)
Dan banyak hadist-hadist lain yang menyuruh kita – baik individu maupun berkelompok – untuk melakukan muhasabah yang hukumnya wajib. Artinya, jika adik melalaikan aktivitas ini maka adik telah berdosa. Penjelasan ini dapat adik baca pada buku Pemikiran Politk Islam karya Abdul Qadim Zallum.
5. Adik telah meremehkan aktivitas Muhasabah yang adik sebut sebagai aktivitas demo, padahal kalau adik lihat di film the message (sebuah film gambaran risalah Nabi Muhammad SAW) bahwasanya Rasul kita sendiri melakukan aktivitas mengoreksi penguasa juga menjelaskan kebenaran Islam secara berkelompok di tengah-tengah umat. Sehingga, jika adik menghina aktivitas muhasabah tentu adik juga menghina aktivitas Rasul yang intensif dilakukan pada fase Mekkah. Persoalan hal itu akan mengganggu lalu lintas apalagi sampai anarkis, itu adalah persoalan teknis dan metode muhasabah. Dalam Islam, aktivitas Muhasabah harus dilakukan secara tertib dan tidak anarkis. Hal ini bisa adik lihat pada realitas aktivitas Muhasabah HTI yang selalu tertib, tidak mengganggu lalu lintas apalagi anarkis!
6. Sebuah kebenaran tidaklah ditentukan oleh gelar dan bangunan fisik semata. Seandainya gelar menjadi legitimasi kebenaran, maka bisa Adik bayangkan kebenaran dan kebatilan bisa dijungkirbalikan. Apakah lantaran yang berbicara adalah kiai maka khomer menjadi halal? Apakah lantaran yang berbicara adalah lulusan IAIN maka korupsi menjadi halal? Tentu tidak bukan? Lalu darimanakah landasan yang adik gunakan sehingga menetapkan kehalalan Tianshi disebabkan Bapak Hasyim Muzadi dan Aa Gym (yang saya pun menghormatinya) apalagi lulusan ekonomi syariah IAIN menghalalkan Tianshi? Sungguh, landasan yang adik gunakan adalah batil! Sebab, Allah telah berfirman yang artinya
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”(Annisa 65)
Oleh karena itu, siapapun orangnya, – sebelum kita ambil legitimasi dari orang tersebut – kita harus benar-benar jeli argumentasi yang orang tersebut ambil lalu kita bandingkan dengan argumentasi orang lain – apapun gelarnya –. Begitupula terhadap bangunan fisik. Kebenaran tidaklah diukur dari fisiknya semata. Apakah lantaran Tianshi mampu menjadikan seseorang kayaraya sehingga mampu membangun masjid, asrama, dsb menjadikan mekanisme Tianshi adalah halal? Sungguh, seandainya argumentasi ini amatlah rusak sebab menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu. Jika argumentasi adik saya gunakan, maka boleh saja saya mengatakan koruptor adalah baik karena ia sumbangkan uang korupsinya untuk membangun masjid, panti yatim piatu, rumah sakit. Jika argumentasi adik saya pakai, maka boleh saja saya mengatakan Dorce yang kaya dengan kewariaannya adalah benar karena ia sumbangkan uangnya untuk membangun sekolah. Sungguh argumentasi ini juga batil karena bertentangan dengan ayat yang sama, an Nisa 65
7. Realitas umat Islam yang berkelompok-kelompok adalah niscaya dan benar adanya. Dikatakan sebuah keniscayaan karena sudah menjadi realitas sejak masa para Sahabat. Adanya perbedaan madzhab, yakni madzhab Syafi’I, hanbali, Maliki, Hanafi juga menunjukkan hal tersebut. Dikatakan benar adanya karena memang telah dibiarkan oleh Rasul. Sebagai contoh – dalam kitab bunga rampai pemikiran Islam – segera setelah berangkatnya kelompok-kelompok (qabilah) dalam Perang Khandaq, beliau memerintahkan seorang muadzhin untuk berseru kepada kaum muslimin
“siapa saja yang mendengar dan taat, janganlah melakukan shalat asar kecuali di Bani Quraidhah”
Para ahabat pun berbeda-beda memahami seruan ini. Sebagian meninggalkan shalat asar di perjalanan sebeblum waktu ashar berakhir dan tidak melakukannya sampai mereka tiba di bani Quraidzah. Sebagian lain memahami, bahwa yang dimaksukan adalah agar mereka shalat asar setibanya di perkampungan Bani Quraidzhah meskipun shalat asar sudah lewat. Lalu kedua hal disampaikan kepada Rasulullah SAW dan beliau menetapkan bahwa kedua pemahaman tersebut dapat diterima.
Realitas ini menunjukkan bolehnya perbedaan pendapat. Jika perbedaan pendapat adalah boleh maka otomatis perbedaan kelompok adalah benar asalkan harus berpegang teguh pada Alquran dan Hadist bukan pada hawa nafsunya masing-masing.
8. Lalu, terhadap tuduhan bahwa perjuangan umat Islam yang dilakukan oleh partai-partai Islam itu percuma karena berkutat pada demo-demo,ngomong-ngomong saja tapi tidak mampu menghasilkan bangunan-bangunan fisik yang bisa dinikmati langsung oleh rakyat adalah tuduhan yang keji lagi mungkar. Bagaimana tidak, sebuah perjuangan ikhlas lillahita’ala yang berpegang pada Islam bisa dikatakan percuma? Sungguh, jika kita melihat risalah perjuangan Rasul, Beliau tidak pernah memperjuangkan Islam dalam aktivitas partai politik dengan membangun rumah sakit, madrasah dan semacamnya. Hal itu karena memang bukanlah fungsi partai politik tapi adalah fungsi Negara. Oleh karena itu, Rasul baru melakukan pelayanan umat secara fisik ketika berada di Madinah sebab Rasul telah berhasil membangun sebuah Negara dengan Beliau yang menjadi pemimpinnya.
Namun, meski begitu saya memahami mengapa adik memberikan tuduhan yang begitu keji terhadap aktivitas dakwah partai Islam yang menurut adik tidak menghasilkan sesuatu yang kongkrit padahal umat ini butuh yang kongkrit-kongkrit aja. Hanya saja, persoalan ini tidak bisa saya sampaikan hanya dengan lewat tulisan ini, harus ada sebuah pengkajian mendalam dan sistematis mengenai ini dan kesempatan masih terbuka lebar untuk adik kembali mengkaji Islam tentang realitas perubahan yang sejati dan bagaimana meraih perubahan yang Islami lagi hakiki dengan metode-metode Islam
Akhir kata, wahai adikku yang dirahmati Allah, telah jelas antara yang haq dan yang batil, tinggal kita mengambil yang haq seraya meninggalkan yang batil. Tapi semuanya berada di tanganmu, sedang saya hanyalah pemberi peringatan. Semoga sukses dunia akhirat.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: